Saturday, March 4, 2017

It is okay.

Benar, kata pepatah segala sesuatu yang terlalu itu tidak baik, bahkan baik itu sendiri.
Tapi,
Seperti apa parameter terlalu? Semuanya abstrak dan relatif. Tidak ada hal definitif atas terlalu, apalagi jika dihubungkan dengan interaksi antar 2 orang manusia.

Begini,
Bagaimana kalau saya bilang, semuanya kembali pada darimana kalian melihat? 
Satu sisi, ada yang memang pada dasarnya selalu menjadikan dirinya lilin. Membakar diri sendiri untuk orang lain.
Dan di satu sisi, ada yang (mungkin) berusaha menyelamatkan semua orang tapi dengan cara yang seharusnya tidak begitu. Bitter truth is better than a sweet lie, huh?


Tapi sebentar,
Cara orang melihat memang dari berbagi sudut pandang, tapi ingat toh bahwa manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendirian? Dan ingat juga toh kalau manusia memiliki bagian paling dalam bernama hati? Sudah sewajarnya pula toh, dari sudut manapun kalian melihat segala sesuatu, kalian harus menjaga apa yang harus dijaga, kalian harus bisa membedakan mana yang benar dan mana yang relatif benar, mana yang salah mana yang akan menjadi salah.

Ada hal besar bernama komitmen di dunia ini. Ayah saya pernah bilang, bahwa komitmen adalah hal yang begitu mahal. Jarang ada orang yang dapat berkomitmen tanpa dipancing dengan insentif yang akan didapatkan kelak. Dalam apapun bentuknya. Baik materil maupun non-materil. Baik fisik maupun non-fisik.

Memang benar, selau ingat 3 perkara.
Don't promise when you're happy
Don't reply when you're angry
Dont't decide when you're sad

Lalu dimana letak komitmen? Di yang paling pertama. Hati tidak pernah salah, yang salah adalah bagaimana kita mengambil tindakan atas nama hati. Dan ketika kita berjanji—berkomitmen pada saat kita sedang berada di atas atau sedang dalam puncak-puncaknya, hati-hati. Kita tidak pernah tahu, ketika ada di titik terbawah, apakah komitmen tersebut tetap ada atau bahkan dianggap tiada. Dan pada titik inilah, kita tahu seberapa besar seseorang bisa bertahan pada komitmennya walaupun sudah sebegitu banyak hal yang selalu lebih dan selalu paling. Dan ayah saya mencontohkan untuk selalu berpegang pada komitmen yang telah dibuat, sebesar apapun godaan diluar sana yang selalu lebih dan selalu paling. Karena kita tidak pernah tahu kapan kita akan dapat berjalan selaras dengan partner komitmen kita atau sebaliknya.Hal kecil saja, dapat merusak komitmen. Dan kata-kata pun tidak dapat membuktikan bahwa kita berpegang pada komitmen. 



Menghargai dan dihargai itu, penting. Percaya dan dipercaya itu, penting. Dan yang kita butuhkan adalah saling.



Pepatah bilang, jika kamu ingin dihargai, maka hargailah terlebih dahulu.
Lantas, siapa yang harus memulai? Mulailah dari diri kita sendiri.

Tak apa,
Tak apa menjadi lilin untuk orang lain,
Tak apa memulai untuk meng- daripada di- 

Dan,
Tak apa melepaskan daripada menahan bom waktu.
Satu-satunya obatmu untuk sembuh adalah,
Everything happens for a reason.

No comments:

Post a Comment